Al-Biruni, dan Kontribusinya Dalam Ilmu Astronomi

Oleh: Muhammad Nashiruddin Anshari

Pada beberapa saat yang lalu ramai perdebatan tentang bentuk dari bumi. Ada yang mengatakan bahwa bumi itu bulat, seperti yang kita tahu selama ini, dan adapula yang mengatakan bahwa bumi itu datar. Namun kalau melihat dari banyak bukti bentuk dari bumi itu adalah bulat.

Masyarakat umumnya mengetahui pencetus dari bumi bulat itu adalah Nicolaus Copernicus. Namun, jauh berabad-abad sebelum Copernicus, ternyata sudah ada yang mencetuskan bahwa bumi itu bulat beliau adalah Abu Raihan Al-Biruni atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Biruni. Akan tetapi nama tersebut jarang didengar oleh masyarakat, karena pada saat ini lebih populer ilmuwan dari barat.

          Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan pada tahun 362 H (973 M) dan meninggal pada 437 H (1048 M). Ilmuwan muslim ini ahli dalam berbagai ilmu pengetahua, seperti matematika, fisika, sejarah, farmasi, dan lain-lain. Abu Raihan Al-Biruni merupakan salah satu dari dua ilmuwan besar muslim dalam bidang pengetahuan alam, bahkan menurut para ilmuwan barat bahwa ia satu-satunya ilmuwan terbesar muslim (Gaudah, p. 248).

Sejak usia anak-anak dia belajar kepada Abu An-Nashr bin Arraq. Dia sudah menunjukkan potensinya yang besar sejak usia dini dalam bidang astronomi, matematika, geografi, sejarah, dan berbagai macam ilmu yang lainnya.

Ketika ia berusia dua puluh tahun, Abu Raihan Al-Biruni pergi ke nergi Jurjan dan bekerja pada pangeran Syamsul Ma’ali Qabus bin Wasykamir. Pada saat itu ia berkesempatan untuk bertemu dengan para ilmuwan besar yang bekerja di istana Syamsul Ma’ali. Diantaranya dia bertemu dengan dengan Ibnu Sina yang dikenal memiliki persahabatan dekat dengan dengan Al-Biruni sehingga membuahkan korespondensi ilmiah yang sangat bernilai antara kedua ilmuwan besar ini. Dia mulai menulis buku sejak dia berada Istana Jurjan.

Beberapa sumbangsih dia untuk ilmu astronomi adalah dia orang yang pertama kali menyimpulkan adanya pergerakan titik matahari yang terjauh dari bumi dia juga yang menegaskan bahwa Bumi itu berbentuk bulat bola.

Dia mengamati gravitasi semua benda yang jatuh ke bumi dan menjelaskan bahwa berbagai fenomena alam dapat diinterpretasikan demikian dengan persepsi bahwa bumi berputar pada porosnya setiap hari dan setiap tahun berputar mengelilingi matahari. Dengan demikian jelas bahwa secara impilisit ini merupakan pengakuan Copernicus (1473-1543 M) bukan orang yang pertama kali menemukan teori ini. 

Dan sumbangsih Al-Biruni yang lainnya adalah metode dia dalam mengukur bumi yang dikenal dengan kaidah Al-Biruni yang ditulis dalam akhir bukunya Al-Isterlap.

Teorinya ini digambarkan seperti ini, “Untuk mengetahui hal ini ada cara yang berdasar pada khayalan, benar dengan pembuktian, dan untuk sampai kepadanya sulit karena kecilnya alat Isterlap dan sedikitnya ukuran sesuatu yang dijadikan dasarnya. Yaitu seperti kamu menaiki gunung yang menghadap lautan atau tanah licin, dan kamu mengamati terbenamnya matahari, maka kamu akan mendapati apa yang telah kami sebutkan dari penurunan, kemudian kamu mengetahui ukuran penopang gunung tersebut dan kamu mengalikan dalam sinus yang datar karena penurunan sempurna yang ada, kamu membagi yang terkumpul dalam sinus yang terbalik dari penurunan tersebut, kemudian kamu mengalikan hasil pembagian ke dalam 22 untuk selamanya, kamu membagi jumlah pada 7, maka akan keluar ukuran keliling bumi dengan ukuran yang kamu hitung pada pangkal gunung dan tidak terjadi penurunan ini pada kita. Dan jumlahnya pada tempat-tempat tinggi adalah percobaan. Kami berani menyebut cara ini apa yang dikisahkan oleh Abul Abbas An-Nairizi dari Aristoteles bahwa panjangnya pangkal-pangkal gunung adalah 5 mil setengah dengan perkiraan yang berdasar pada setengah diameter bumi tiga ribu dua ratus mil kira-kira. Maka perhitungan memutuskan untuk pengantar ini bahwa ditemukan penurunan digunung yang pangkalnya seukuran ini adalah kira-kira tiga derajat. Hal-hal seperti ini bergantung pada pengalaman dan ujian. Dan tiada taufiq kecuali dari Allah.”

Untuk mengeluarkan persamaan (kaidah) yang digunakan yang digunakan Al-Biruni, kita mengungkapkan dengan simbol seperti berikut: Kita mengandaikan bahwa huruf Alif adalah puncak gunung, huruf  Alif dan Ain adalah garis yang menghubungkan dari Alif sampai sampai pusar bumi. Ain merupakan simbol ketinggian gunung, Fa’ Al-Biruni menamakannya sudut, huruf Ain, Alif, Dal adalah penurunan horizontal, sehingga sudut  Ain  sama dengan sudut Qaf  (karena masing-masing dari keduanya menyempurnakan sudut Ain, Alif, Dal). Hasil dari rekayasa bentuk ini adalah ukuran bumi =2(22/7) sin. Di mana diameter setengah bumi sin= fa jitaq/alif jitaq. Dan ini ialah cara Al-Biruni dalam mengukur bumi.

Teori-teori Al-Biruni banyak dijadikan acuan oleh ilmuwan Barat seperti Copernicus menjadikan teori bumi bulat sebagai acuan. Dengan demikian bisa dibilang ilmuwan Islam banyak menginspirasi dan dijadikan acuan oleh ilmuwan barat.

[*] artikel ini ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Anshari, mahasiswa semester 3 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester matakuliah Islam dan Ilmu Pengetahan di bawah bimbingan Dosen Irfan Abubakar, M.Ag

11 tanggapan untuk “Al-Biruni, dan Kontribusinya Dalam Ilmu Astronomi

  1. Mantep pokoknya, beliau sangat berpengaruh besar atas berkembangnya Ilmu pengetahuan! Semoga ada penerus-penerus yang dapat diandalkan. *Peninggi badan nya sedang promo kak, bisa cek di ig: @Basariiiyah

    Suka

Tinggalkan Balasan ke mona monika Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai